TINJAUAN KEMANUSIAAN DALAM PUISI GADIS PEMINTA-MINTA


 PUISI GADIS PEMINTA- MINTA

TINJAUAN KEMANUSIAAN


Setiap kali kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku,pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang,tanpa jiwa


Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok

Hidup dari kehidupan angan- angan yang gemerlapan

Gembira dari kemayang riang


Duniamu yang lebih tinggi dari menara Katedral

Melintas- lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

Jiwa begitu murni, terlalu murni

Untuk bisa membagi dukaku


Kalau kau mati,gadis kecil berkaleng kecil

Buah di atas itu tak ada yang punya

Dan kotaku, ah kotaku

Hidupnya tak lagi punya tanda



                    ( Toto Sudarto Bachtiar)



Membaca puisi ini sangat- sangat menggugah nurani kemanusiaan kita.

Sang Penyair begitu sempurna menunjukan rasa kemanusiaannya pada gadis kecil berkaleng kecil.

Suatu gambaran kehidupan,yang biasa penyair,bahkan setiap orang yang hidup di kota besar.

Betapa tidak, kesempurnaan apa yang disampaikan oleh penyair lewat larik

Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

Penyair seakan masuk dalam kehidupan sang pengemis, merasakan, betapa kehidupan sang pengemis begitu sederhana,jauh dari kata layak.

Apakah kita tidak tergugah dan coba merasakan walaupun sedikit.

Hanya kelembutan hati dan cinta yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Penyair dalam puisi ini bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembacanya bahwa setiap orang/ manusia memiliki martabat yang sama.

Perbedaan kekayaan, pangkat dan kedudukan seseorang, tidak boleh menjadi sebab adanya pembedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seseorang.

Seperti pada puisi tersebut, Penyair membela martabat kemanusiaan gadis peminta- minta yang disebutnya sebagai gadis kecil berkaleng kecil.

Jika kebanyakan orang menganggap bahwa pengemis kecil yang meminta- minta di pinggir jalan sebagai sampah masyarakat, sebagai manusia yang tidak berharga,maka Penyair mengatakan dengan tegas bahwa martabat kemanusiaan gadis kecil berkaleng kecil ini sama derajatnya dengan manusia yang lain termasuk saya dan anda.

Martabatnya lebih tinggi dari menara Katedral.

Bahkan menurut Penyair, jika gadis kecil itu mati. Kota Jakarta akan kehilangan jiwa sebab dunianya tidak mempunyai tanda lagi.

Inilah pesan maha sempurna yang dapat kita petik dari puisi Toto Sudarto Bachtiar.

Martabat kemanusiaan kita di gugah.


Sumber: Ketatabahasaan dan Kesusastraan; Drs.H.E.Kosasih,M.Pd)



Sebuah tinjauan sederhana

Untuk Kemanusiaan


Loang,03 November 2021


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATA TIU, AIR KEHIDUPAN SUKU LIMAN DI PUOR

Sajak Sunyi

CINTAKU TAKKAN LUNTUR