MATA TIU, AIR KEHIDUPAN SUKU LIMAN DI PUOR
Kisah sejarah perjalanan dan petualangan sekelompok orang yang kini hidup dan menetap di Puor Kecamatan Wulandoni Kabupaten Lembata.
Dahulu kala ketika peradaban itu masih terkebelakang di Lamabaka kampung asal di sana hidup beberapa suku dan salah satunya adalah suku Liman.
Kehidupan mereka pada awalnya sangat rukun dan damai,penuh persaudaraan dalam masyarakat.
Pada suatu musim menjelang musim hujan, seperti biasa kebiasaan masyarakat setempat yang hidupnya bercocok tanam dengan cara berladang membuka ladang baru yang dalam keyakinan suku bahwa ladang tersebut disebut Eka Rajan ( kebun besar= kebun adat).
Kebun ini di kerjakan oleh dua keluarga,proses pengerjaan kebun tersebut sudah dilalui dan tibalah saatnya untuk menanam benih pada kebun tersebut.
Mengingat kebun tersebut besar sekali karena merupakan kebun adat ( Eka Rajan) berarti membutuhkan banyak tenaga untuk menanam benih.
Biasanya yang dinamakan kebun adat sebelum menanam benih pasti didahului dengan ritual adat yang dinamakan Bel Efang Duang.( Potong binatang besar).
Untuk diketahui jika kebun tersebut dikerjakan oleh dua orang/ dua pihak berarti ada dua binatang yang siap untuk dipotong dalam istilah masyarakat setempat disebut Kneu Juan, begitu sebaliknya kalau kebun tersebut dikerjakan oleh tiga orang disebut Kneu telon.
Ritual yang perlu dilakukan sebelum menanam benih adalah sebagai berikut :
Hewan kurban di taruh dekat dengan tempat yang dinamakan Mulus.
Hewan tersebut akan di potong oleh orang- orang yang sudah ditentukan.
Untuk diketahui hewan yang mau di potong harus sekali tebas langsung putus, sehingga membutuhkan parang ataupun Kelewang yang tajam.
Kembali ke ritual yang harus di lalui tersebut, salah satu pihak/ Kneu sudah mempersiapkan hewan yang akan dipotong.
Sedangkan satu pihak/ Kneu sampai dengan saat akan dimulainya ritual tersebut masih pergi mencari hewan. ( Mungkin karena tidak punya sehingga masih harus minta bantuan pada orang lain yang piara hewan)
Setelah pulang dari kampung ke kebun,semua orang sudah mulai menanam benih padi dengan penuh semangat.
Tak disadari oleh orang tersebut sampai pada jam makan.
Pada saat itu ia sepertinya merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.
Saat itu ia bertanya apakah tidak ada yang tahu keberadaan anaknya.
Dari situlah orang memberi tahu bahwa,acara ritual tadi karena kamu belum juga mendapatkan hewan jadi yang menjadi pengganti adalah anakmu.
Adakah kita yang sekarang ini bisa membayangkan bagaimana reaksi orang ini ketika mendengar penjelasan demikian?
Dari situlah timbul keributan antara kedua belah pihak ( kedua Kneu mapa) .
Pihak yang merasa sangat terpukul ini menangis sejadi jadinya sambil berlari ke kampung.
Setibanya di kampung, ia memberi tahu keluarga dekatnya dan dari situ timbul reaksi.
Karena pihak yang satunya sudah berbuat demikian, lebih baik kita tinggal kampung halaman ini,kita berpindah ke tempat lain yang bisa membuat kita melupakan peristiwa yang sangat mengerikan ini.
Sambil membuka ktilo ( semacam paku yang terbuat dari kayu atau bambu untuk menghubungkan bagian bangunan) bagian kanan dari rumah adat untuk dibawa serta dalam petualangan selanjutnya.
Mulai dari situ, suku Liman terpecah menjadi dua yakni Suku Liman Blikololong dan Liman Blikolei.
Dalam perjalanan mereka sempat mengambil air ditempat yang bernama Bukabarek,air tersebut di isi dalam sebuah wadah ( konok), tempurung kelapa untuk dibawah serta dalam perjalanan.
Pada jaman dahulu, tentunya perjalanan yang sudah di mulai penuh tantangan dan rintangan yang siap menghadang.
Untuk diketahui,Desa Puor yang sekarang ini, masih merupakan kampung yang dihuni oleh beberapa suku yang hidupnya belum terhimpun sebagai satu kesatuan.
Mereka masih di tempat masing-masing.
Dalam pengembaraannya Suku Liman ini berjalan terus mencari daerah yang dianggap aman untuk ditempati.
Persinggahan mereka yang pertama adalah di Bau lengket dan tempat yang dipilih oleh mereka sebagai persinggahan sementara adalah Kbelu Leng. Daerah yang berbatasan dengan Kluang ( Belabaja) dan Liwulagang.
Daerah ini berada di ketinggian,karena untuk jaman dahulu pasti masih ada perang untuk mempertahankan daerah.
Dalam pengembaraan ini, mungkin orang orang Suku Liman bertemu dengan orang dari suku lain yang berada di Puor,maka mereka berpindah lagi ke Pelan dari perjalanan mereka ke Pelan ini mereka menuangkan air yang di bawah dari Bukabarek di satu tempat yang dinamakan MATA TIU.
Kalau kita kembali pada kepercayaan dan keyakinan orang-orang tua dulu,apa yang mereka lakukan akan terjadi.
Dan mata air MATA TIU itu menjadi simbol Kehidupan bagi anak dan cucu.
Dalam perjalanan selanjutnya,mereka menetap di PELAN.
Dahulu kala, kehidupan masyarakat Puor hidup berdasarkan suku/ marganya masing-masing, mungkin saat ini yang dikenal dengan sebutan ORING.
Setelah itu baru ada penyatuan yang sekarang dikenal dengan nama Puor.
Setiap kali ada kelahiran anak dalam suku Liman, biasanya ada keyakinan mereka harus dimandikan dari mata air ini.( Daura fa'i).
Selain kelahiran, ada satu lagi peristiwa yang musti dilakukan di mata air ini yakni LEB LODUK.
Peristiwa ini merupakan ritual yang musti dilakukan oleh pengantin baru setelah mengikuti satu acara yaitu BUKA.
Untuk ritual LEB LODUK, pengantin baru pergi mandi di mata air dan pada saat pengantin perempuan mencuci rambut itu harus dilakukan oleh saudari dari pengantin laki-laki.
Pada saat itu, sebagai ungkapan rasa terima kasih biasanya pengantin perempuan memberikan sesuatu yang dianggap pantas.
Biasanya berupa gelang/ cincin atau barang lain yang pantas.
Go tedeke Koda Nakri,FE or ana dad Din deten mai USU asa tire re bongkri.
Tit re Ju Lamabaka aka.
Swalar Krispianus Liman
Loang,14 Agustus 2021
Komentar
Posting Komentar